Keluar

Keluar

Keluar

Keluar

Please Login

Lupa sandi ?

Login

The School Of Future Leader

Sharing

IT Sanmar27 July 201162956 click


Bukan Sekedar Luar Biasa

Stefanie Stefanie _01

Stephanie Santoso sekarang duduk di kelas XII untuk kedua kalinya. Teman-teman sering lupa bahwa saya harus mengenyam pendidikan SMA selama 4 tahun. Bukan karena saya tidak naik kelas, lho! Sebaliknya, saya mengambil cuti sekolah selama setahun karena saya terpilih dalam program pertukaran pelajar Youth Exchange and Studies (YES) ke negeri Paman Sam.

Program YES adalah program beasiswa yang diprakarsai oleh pemerintah Amerika Serikat untuk menjembatani upaya perdamaian dengan belasan negara bermayoritas muslim di dunia, termasuk Indonesia. Tahun ini kurang lebih empat ratus pelajar SMA dan sederajat dari seluruh dunia berpartisipasi dalam program ini. Lewat Yayasan Bina Antarbudaya, Indonesia berhasil mengirimkan 101 pelajarnya untuk menimba ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya di AS selama kurang lebih sebelas bulan.

Ketika ditanya orang tentang bagaimana kesan saya selama setahun di Amerika Serikat, saya biasanya menjawab, “lebih dari sekedar luar biasa” karena memang hal ini yang sesungguhnya saya rasakan. Saya belajar namun bukan sekedar belajar di sekolah tapi juga mendalami ritmik hidup, jalan pikir, dan pola kebiasaan orang Amerika. Ilmu yang saya dapat bukan hanya pelajaran formal di sekolah tetapi juga pelajaran nilai hidup di rumah hostfamily. Salah satu pengalaman yang terpatri paling dalam di hati saya adalah pengalaman menjadi seorang kakak.

Di keluarga natural saya, saya adalah anak bungsu yang memiliki dua orang kakak laki-laki. Sudah perempuan sendiri, anak bungsu pula. Anda pasti bisa membayangkan betapa dimanjakannya saya. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa saya akan merasakan rasanya menjadi seorang kakak. Di hostfamily, saya memiliki adik perempuan berusia 6 tahun dan kakak laki-laki berusia 18 tahun. Sang kakak tinggal di tempat lain sejak ia berusia 16 tahun, sehingga adik saya sudah terbiasa menjadi ‘anak tunggal’ di rumah. Mungkin dia juga tak pernah menyangka akan punya kakak perempuan seperti saya. Tahun ini adalah pengalaman pertama bagi kami untuk memiliki seorang sister.

Namanya Brookelyn. Rambut pirang sebahu membingkai pipinya yang bersemu merah di kulitnya yang putih seperti tipikal orang Amerika pada umumnya. Badannya tergolong sangat tinggi untuk anak seumuran dirinya. Sekarang ia duduk di kelas satu di sekolah dasar swasta, Washington state. Sepintas Brookelyn sama dengan teman-teman sebayanya, namun ia sebenarnya menderita sensory disorder.

Kelainan ini membuat dirinya terkadang tak bisa mengendalikan atau menyadari seberapa besar kekuatan yang ia kerahkan pada objek di sekitarnya. Misalnya saja maksud ia untuk memeluk tetapi terasa seperti cengkeraman, atau dorongan terasa seperti pukulan. Karena ini pengalaman pertama saya bersama anak berusia 6 tahun, saya kurang tahu apakah hal ini biasa terjadi pada anak seumurannya. Dari pengamatan saya, dia tidak terlalu berbeda dari teman-temannya; hanya saja ia mengambil occupational teraphy setiap minggu sekali untuk membantu dirinya menguasai dan mengontrol kekuatannya.

Bersama Brookelyn, kami bersama-sama belajar untuk mengerti satu sama lain sekaligus tumbuh berkembang untuk mencapat tingkat kedewasaan yang lebih tinggi. Saya belajar untuk menjadi kakak yang baik, meski hal itu gampang-gampang susah. Sebelumnya saya merasa bahwa saya sudah cukup dewasa, namun ternyata kedewasaan itu tidak cukup untuk meladeni Brookelyn, hingga suatu saat saya hampir lepas kendali saking geregetannya. Seringkali keegoisan menjadi alasan utama yang menghambat proses saya dan Brookelyn. Saya juga disibukkan oleh 3 peran saya sebagai siswa, anak, dan saudara perempuan sehingga mungkin saya tidak sempat menghabiskan seluruh waktu saya bersama Brookelyn.

Makanan sehari-hari saya adalah persoalan membagi waktu dan prioritas: saya harus belajar, sedangkan ia meminta saya untuk menemaninya bermain. Namun di balik semua itu, saya banyak memiliki pengalaman berharga bersama Brookelyn. Rasanya ada kepuasan tersendiri sebagai seorang kakak ketika melihat senyumnya setelah ia bangun tidur di pagi hari, ketika tahu bahwa saya dibutuhkan olehnya, ketika saya berhasil mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengalah, ketika saya berhasil mengajari dia tentang sesuatu, ketika berhasil menjawab segudang pertanyaan penuh rasa ingin tahu, ketika berhasil memperkenalkan ‘dunia’ kepadanya, atau mungkin sekedar keberhasilan untuk menamatkan satu level di game kesayangan bersama-sama.

Saya rasa cuti sekolah setahun itu terbayar dengan pengalaman saya menjadi kakak karena tak pernah ada sekolah untuk menjadi seorang kakak. Pengalaman langka ini mungkin hanya bisa saya dapatkan sekali seumur hidup dengan ikut program pertukaran pelajar. Saya terharu ketika mendengar kata-kata Brookelyn yang diucapkannya tiap hari selama satu minggu terakhir sebelum saya pulang ke tanah air. “I don’t want Stephanie to go,” katanya. Yang hanya bisa saya katakan adalah : “I am not going anywhere. I am staying in your heart as your first and last sister. We will meet again for sure.” (stephanie)

Komentar :

Sr. Fitri
  Maju terus stephanie, angkat nama Indonesia apapun keadaannya. Kamu adalah generasi baru untuk bangsa kita ini. Proficiat ya Stephanie, sekarang semangat di kelas 12

Page : 1 Of 1 . Total Records Found: 1

Input Comment :

Nama
Email
Komentar Maks: 500 karakter
Very Happy Smile Sad Surprised Shocked Confused Cool Laughing Mad Razz
Embarassed Crying Evil or Very Mad Twisted Evil Rolling Eyes Wink Exclamation Question Idea Hammer
 

« Dec 2020 »
M S S R K J S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9