Keluar

Keluar

Keluar

Keluar

Please Login

Lupa sandi ?

Login

The School Of Future Leader

Kilas Balik

IT Sanmar12 June 2018655 click

Drakol 2018
 
Memori Tidaklah Sekadar
Untaian Kenangan Berpendar
 
Sepercik kenangan masa lalu hanya akan menjadi serpihan kecil dalam ingatan hingga lama-lama bisa terlupaka. Sejarah masa lalu bukanlah hal yang dapat dilupakan, tapi harus selalu dikenang untuk mengingat perjuangan kala itu. Oleh karena itu, terbentuklah sebuah reportoar drama kolosal (drakoDrakol 2018l) yang merupakan sajian pentas drama mengenai Biara Ursulin Raya Darmo) dan berdirinya sekolah menengah SMP dan SMA Santa Maria Surabaya yang ke-95 tahun berkarya di Surabaya. Pentas drakol di gelar di SSCC, PTC Surabaya,Pk.18.00-21.00, pada 13 Oktober 2017.

Lebih dari 1000 penonton tumplek blek. Mereka berasal dari unit TK, SD, SMP dan SMA Santa Maria Surabaya serta tamu-tamu undangan menjadi saksi kolosal nan megah pertunjukan drakol di era now ini. Drakol yang bertajuk 7 Biji Congklak ini dibalut dengan apik dan berhasil memadukan suasana tempo dulu melalui lagu dan tarian tradisional, serta keindahan tari-tarian modern yang nyata. Momen langka ini juga dihadiri oleh para suster-suster komunitas Ursulin mulai dari Pacet, Malang, Madiun, Solo, Bandung dan Surabaya, serta turut mengundang Kadis Pendidikan Surabaya dan KaProv. Pendidikan Jatim. Tak hanya drama saja yang ditampilkan di acara ini, aneka tarian tradisional dan modern yang berkolaborasi dengan tim paduan suara, serta penampilan-penampilan menarik yang disuguhkan oleh ratusan siswa-siswi Santa Maria turut mampu menghidupi suasana dan menghibur para penonton. Pembawa acara drama kolosal ini juga diambil dari murid SMP Santa Maria Surabaya. Dalam balutan dress merah dan jas putih, Caroline dan Michael tampak serasi dalam membawakan acara drama kolosal ini. Rupanya, kostum bernuansa merah putih itu sengaja dipilih untuk mewakili bendera kebangsaan tanah air tercinta ini.

“Jika dialah yang menanamnya, siapakah yang dapat mencabutnya. Jangan ragu-ragu, tetap milikilah iman yang teguh. Momen 95 tahun bukanlah wDrakol 2018aktu yang singkat. Kehadiran para suster Ursulin menjadi bukti bahwa kata-kata Santa Angela Merici tersebut sungguh-sungguh menjadi nyata untuk saat ini dan selamanya.” Begitulah sepetik sambutan dari Suster Cecilia Marijanti,OSU selaku Ketua III Kampus Santa Maria Surabaya yang disambut dengan gemuruh tepuk tangan penonton yang memadati Ballroom SSCC, PTC itu.

7 Biji Congklak
Dalam acara drama kolosal (drakol) ini, penampilan paling dominan yang ditampilkan adalah tari-tarian. Tarian pembuka diawali dengan tari Remo. Tari Remo ini dibawakan oleh puluhan siswa-siswi SMP dan SMA Santa Maria Surabaya. Dalam balutan pakaian khasnya dan menggunakan selendang berwarna merah, para siswa SanMar – sapaan akrab Santa Maria Surabaya - menari dengan lemah gemulai dan “menghipnotis”. Suara gemerincing yang berasal dari lonceng kecil yang dibalutkan di kaki penari semakin menghidupkan tari tradisional Indonesia yang khas ini.

Sebagai siswi kelas 12, Brigita Dewi yang merupakan salah satu penari Remo ini mengalami berbagai kendala selama hampir 2 bulan ketika akan mengikuti latihan. Misalnya, seperti banyaknya jadwal latihan yang bertubrukan dengan ujian praktik sekolah dan membuatnya juga harus ketinggalan beberapa mata pelajaran. Untungnya, cewek berambut sebahu ini dapat mengatur waktunya dengan baik. “Jika ada jadwal latihan yang bertubrukan dengan ulangan harian, aku tetap akan mengikuti latihan nari. Namun, ikut susulan langsung di hari itu juga setelah pulang sekolah biar gak numpuk. Intinya ya …memang harus disiplinlah,” ujarnya bangga.

Tak cukup sampai disitu, tim paduan suara dari SMP Santa Maria Surabaya juga berhasil menghibur penonton melalui suara-suara merdunya dalam menyanyikan lagu Sanctus. Lirik lagu yang rupanya berbahasa Belanda ini tidak mengurangi kualitas performa mereka, tapi malah semakin menambah ke-syahduan lagu ini dan menjadikannya sungguh berkesan di mata penonton. Setelah dihibur dengan tim paduan suara SMP SanMar, lalu penonton dibuat senyum dengan penampilan siswa-siswi TK Santa Maria Surabaya. Dengan kostum warna-warni plus sayap-sayap kecilnya yang melekat di punggung, malaikat-malaikat kecil ini bergerak memenuhi panggung dan diiringi dengan alunan musik dari karawitan. Kepolosan dan keluguan wajah dari anak-anak TK ini mampu mentransfer kegembiraan ke penonton. Tepuk tangan dan tawa riuh dari penonton membanjiri area ballroom SSCC. “Menghibur sekali drama dan tarian-tariannya. Mereka lucu-lucu dan polos. Saya sampai tertawa gak ketulungan saat melihat anak-anak TK berpentas ria lewat gerakan-gerakan tarinya. Pokoknya nyesel deh kalau gak nonton,” beber Nicholas, Murid SMA Santa Maria Surabaya. Sementara itu, orangtua dari Celine kelas X IPS 1 yang datang menonton, rupanya juga terpukau dengan drama kolosal ini, terkhusus pada penampilan murid-murid TK. “Keren banget. Adik-adik TK pun tak kalah dengan kakak-kakaknya yang SMP dan SMA. Mereka bisa menunjukkan kebolehannya dengan mantap. Padahal untuk melatih dan membimbing  anak-anak TK yang segitu banyaknya bukan perkara yang mudah lho,“ decaknya kagum.

Drakol mengenai asal usul sekolah Santa Maria yang menjadi pertunjukan utama ini tak kalah apiknya. Tak hanya acting dan performa ke-7 pemain utama dari SMP dan SMA Santa Maria yang keren, tapi kesan dibaliknya juga menarik karena kisah sejarah sekolah Santa Maria dan biara Ursulin ini dapat disampaikan dengan baik. 

Bermula dari tokoh Iris yang merupakan siswi SMP Sanmar mengajak teman-temannya untuk bermain congklak peninggalan neneknya. Namun, teman-temannya menolak karena congklak adalah permainan jadul sehingga mereka lebih memilih bermain ukelele, yaitu alat musik modern sejenis gitar yang berukuran kecil. Saat iris berkata bahwa congklak tersebut bila dimainkan dengan sungguh-sungguh di tempat yang sepi dapat membawa pemain congklak ke masa lalu maupun masa depan, teman-temannya tak percaya. Untuk membuktikan ucapannya itu, akhirnya mereka bermain congklak tersebut. Tak disangka, congklak tersebut membawa mereka ke masa 95 tahun silam saat SMP dan SMA Santa Maria sebelum dibangun. Dan cerita itu akhirnya dimulai. Dimulailah drakol sarat makna itu.

Tidak melulu mengenai sejarah, drakol ini juga dibumbui adegan-adegan khas remaja zaman sekarang seperti kisah cinta khas remaja dan pertengkaran kecil yang harus dilalui dikehidupan remaja. Dalam drakol ini juga terdapat pesan moral dan amanat yang terkandung dalam berbagai kalimat positif pada dialog alur drama. Misalnya, seperti ‘Semakin Anda menghargai mereka, semakin besar kecintaan Anda. Semakin besar cinta Anda, semakin besar kesanggupan Anda untuk melayani dan melindungi mereka. Karena begitulah cara kerja cinta sejati’. Kalimat tersebut menunjukkan cinta yang besar dari suster-suster Ursulin untuk anak-anak didiknya sehingga dengan karunia Roh Kudus, para suster berhasil membangun sekolah lanjutan Santa Maria agar murid-muridnya dapat melanjutkan pendidikan. Meskipun banyak masyarakat yang memandang rendah dan mencibir niat baik suster Ursulin itu arena gedung yang akan dibangun didirikan diatas rawa-rawa yang tidak layak, tapi suster-suster Ursulin tetap optimis karena cinta dan kasih sayangnya yang besar.

“Kagum pasti ya, melihat kepiawaian anak-anak dalam menirukan gaya bicara dan perjuangan para suster saat mendirikan kampus Santa Maria. Salut sama kerja keras anak-anak dan para guru!” ujar orangtua dari Melisa Pranata, kelas X IPS 1. Tak jauh berbeda dengan Clara dari XII IPS 1, menurutnya drama 7 Biji Congklak ini sangat memberikan kesan yang bagus karena banyak mengandung pesan-pesan positif. “Acaranya cukup bagus, mereka telah memberikan banyak waktu dan tenaga untuk mempersiapkan acara ini. Selamat!,” katanya. 

“Keren dan bangga Sanmar bisa membuat acara seperti ini. Semua bagian dari drama kolosal ini menarik, tapi aku paling suka modern dance terutama waktu bagian tarian sahabat sejati karena di tarian itu terlihat jelas gambaran seorang sahabat yang sejati. Power para dancenya juga oke banget. Jago-jagolah pokoknya. Semua lincah.” ungkap Brigita XII IPS saat ditanya bagian favorit dari pementasan drakol itu.

Di sela-sela pertunjukan drama kolosal ini, selalu dibubuhi sajian tarian maupun lagu sehingga penonton tidak jenuh. Aneka tarian tradisional yang ditampilkan juga untuk mengingatkan penonton tentang keragaman budaya Indonesia yang indah. Keanekaragaman budaya Indonesia ini merupakan aset yang tak ternilai harganya. Oleh karena itu, warga SanMar harus berbangga hati karena Santa Maria memberikan kesempatan untuk menampilkan dan mempelajari tarian-tarian serta alat musik tradisional seperti gamelan, angklung, ukele, karawitan, dan sebagainya. Tak melulu mengenail hal-hal tradisional, berbagai tarian modern dance dan lagu-lagu modern juga mengiringi acara untuk menunjukkan bahwa Indonesia saat ini berada di era modern dan Indonesia meneriDrakol 2018ma modernisasi yang telah berkembang di masyarakat. Tentunya itu semua dibalut yang sesuai dengan adat dan budaya Indonesia. Dikemas dengan menarik, perpaduan antara tari modern dan tarian tradisional tidak membuat perbedaan yang kontras. Namun, menghasilkan perpaduan yang memukau dan indah bak elemen bunga warna-warni.

Beragam Tari
Salah satu dari tampilan drakol unik yakni tari Keos. Dengan setelan serba hitam yang didukung dengan face painting yang cukup mengerikan, rupanya tari Keos ini menggambarkan kekacauan pada era sekarang dengan beberapa isu sosial yang ditampilkan. Tarian ini juga memiliki makna yang kuat disetiap gerakannya. Setiap gerakan yang ditampilkan memiliki cerita tersendiri yang menggambarkan kekacauan. Penampilan yang dibawakan oleh sebagian besar murid laki-laki ini berhasil dibawakan dengan sangat energik meskipun hanya berlatih sekitar 1 bulan saja. “Senang banget sih waktu pakai kostum tari Keos. Karena semua orang jadi takut melihat penampilan saya yang menyeramkan. Hehehe,” kenang Arga XI IPA 4 sambil tertawa. “Tapi face painting-nya berat di wajah. Selain itu, aku juga harus memakai lipstick untuk pertama kalinya sehingga rasanya sedikit aneh. Meskipun begitu, aku bangga bisa ambil bagian dalam tarian ini,” lanjut cowok berambut ikal ini.

Tidak banyak berbeda dengan tari Keos, tari Badai juga memiliki jadwal latihan yang padat. “Ikut berpartisipasi dalam drama kolosal itu, harus pintar-pintar mengatur waktu,” kata Ando XI IPA 4 yang ikut serta menarikan tari Badai. Tari Badai merupakan lambang dari masa-masa saat Santa Maria masih belum berjaya alias belum dikenal. Selama 2 bulan sebelum tampil, para pemain drama kolosal selalu berlatih, tak terkecuali tari Badai. Dalam 1 minggu, penari tari Badai harus berlatih sebanyak 6 kali. Untuk menguasai gerakan dan membuat kompak puluhan murid, tentunya bukan perkara yang mudah. Ketinggalan pelajaran dan ulangan merupakan hal yang sudah biasa dialami mereka. Namun, hal itu tidak membuat semangat penari-penari ini turun. “Memang melelahkan, tetapi hasil yang kita tampilkan melebihi ekspektasi. Luar biasa dan spektakuler!” seru Arjuna Accha XI IPA 3 yang mengaku sekarang sering merasa rindu untuk mengikuti latihan drama kolosal itu lagi.

Jika tari Keos dan tari Badai menunjukkan kegagahan, kekacauan, dan kengerian, maka berbanding terbalik dengan tari Bunga yang penuh warna dan anggun. Berhasil dibawakan dengan lemah gemulai dengan kostum 7 warna yang melambangkan bunga. Rupanya jadwal latihan tari bunga merupakan salah satu latihan yang terlama, yaitu sekitar 2.5 bulan. Diiringi oleh musik gamelan yang sangat melankolis. Tari Bunga tampil dengan menawan. Felicia Harsono XI IPA 1 yang merupakan salah satu penari tari Bunga rupanya dapat membagi waktunya dengan cukup baik. Buktinya, ia berhasil menjadi juara kelas meskipun harus disibukkan juga dengan latihan-latihan drama kolosal. “Pantang menyerah, itu kuncinya. Juga harus selalu semangat dan bersyukur. Selesai latihan, aku pasti belajar untuk mengejar ketertinggalanku dalam pelajaran,” aku cewek yang akrab disapa Caca ini. “Sukanya dari drakol ini, ya bisa ketemu teman-teman baru. Kenalan sama adik-adik dari unit SMP dan SD juga. Nambah pengalaman dan teman-teman, deh,” kata Marcela Trifani  XI IPS.

Modern Dance nan Gesit
Eits, rupanya modern dance yang unik juga ditampilkan di drama kolosal ini, lho! Tim Modern Dance SMA Santa Maria Surabaya ini tampil sebanyak 4 kali. Tentunya, kostumnya juga berbeda-beda. Yang paling menonjol yaitu modern dance yang menampilkan tarian seperti kuli bangunan untuk menceritakan pembangunan gedung Santa Maria. Perkakas komplet pertukangan seperti sekop, roda 3, ember dan palu yang dibawa tim dance ini untuk memeriahkan pertunjukkan. Dengan berlatih kurang lebih 2 bulan saja, gerakan yang terinspirasi dari film Bob The Builder itu berhasil dibawakan dengan lincah dan mulus. “Deg-degan juga sih waktu tampil. Untungnya aku bisa fokus menari. Kenangan ini gak akan kulupakan, deh,” kata Catherine Santosa XI IPA 2.

Berbeda dengan Catherine, rupanya Niquetta Eleora XI IPA 4 juga lebih merasakan keseruan dan kegembiraan pada saat tampil. Cewek yang sudah menggeluti tari modern sejak kecil ini lebih memfokuskan diri untuk melatih ekspresi wajah. “Karena di tarian kuli bangunan ini aku juga memegang banyak properti pertukangan, aku harus pintar-pintar mengatur ekspresi wajah yang menunjukkan aku sedang membangun. Seperti ekspresi kelelahan saat mengangat ember dan juga ekspresi seperti berusaha keras saat sedang menyekop,” terangnya. Rupanya, Jashen Eka X IPS 1 sebagai salah satu dancer juga sempat tak enak badan lho saat sedang sibuk-sibuknya latihan. Latihan drama kolosal ini tak hanya membuat jadwal padat, tapi  mereka harus tetap bisa mengikuti pelajaran dengan baik. “Nguras tenaga banget sih pastinya. Demi Sanmar aku benar-benar berjuang keras sampai jadi sakit juga, kecapekan. Tapi seimbang sih sama kebijakan dari sekolah. Dapet nilai plus 10 di ulangan,” ujar cowok yang juga jago rias wajah ini dengan sumringah.

Tentunya, hasil keras para murid-murid ini juga tak lepas dari bimbingan Ibu Eva Dianita Dengah S.Pd atau yang sering disapa Ibu Eva. Kemahirannya dalam seni tari membuat beliau dipercaya untuk melatih kurang lebih 7 tarian yang masuk dalam cerita drama kolosal. Diantaranya ada tari Remo, tari Badai, tari Keos, tari Bunga, tari Jati Diri, tari Simphony, tari Bendera dan tari Bunda Angela. Menurutnya, kesulitan utama ada pada susahnya mencari anak-anak yang bisa menari di bagian-bagian tari tersebut. Dari ratusan murid SMA Santa Maria Surabaya, Bu Eva mengadakan audisi tari dengan mengadakan tes menari per kelas hampir di setiap Minggunya. Dengan begitu, ia dapat melihat kelihaian dan kelincahan murid-murid dalam bergerak mengikuti irama lagu. Setelah itu, ia mencatat anak-anak yang layak untuk mengambil bagian dalam tari-tarian di drama kolosal. “Memang persiapannya panjang dan perlu kerja keras. Kendala lainnya yaitu susahnya mengatur anak-anak. Kalau latihan terkadang molor, tapi untungnya mereka dapat diajak kerja sama dengan baik,” kenangnya.

Meskipun begitu, aneka tarian yang indah ini tak akan berjalan dengan lancar tanpa iringan musik. Alunan musik tradisional karawitan yang sangat kental ini dibawakan oleh siswa-siswi SMP dan SMA Santa Maria Surabaya. Persiapan untuk menampilkan performa yang apik ini memerlukan waktu sekitar 2 bulan lebih dan dipandu oleh Pak Pambuko selaku guru seni musik karawitan. Menurutnya, tak ada kesusahan yang berarti karena murid-murid yang dibimbingnya sudah cukup mahir dalam memainkan karawitan. “Syukurlah hanya dengan waktu 2 bulan saja penampilan karawitan kami yang disajikan di hampir seluruh acara dapat berjalan dengan lancar. Meskipun begitu, ketika latihan juga tidak sepenuhnya berjalan dengan lancar karena murid-murid terkadang susah diatur. Namun, mereka cukup dewasa untuk mengerti situasi dan menjalankan tugas dengan baik,” tuturnya.

Tak hanya menampilkan drama, tarian dan lantunan musik saja. Siswa-siswi Santa Maria juga banyak yang unjuk kebolehannya dalam berbagai bidang. Seperti adu karate, marching band, dan sebagainya. Drama kolosal kali ini memang benar-benar momen langka yang positif karena murid-murid tidak hanya dituntut bagus dalam akademik saja, tapi dapat belajar tampil di depan umum dan menggali potensi diri masing-masing. Terbukti, penggarapan acara ulang tahun ke-95 Santa Maria ini membuahkan hasil yang cemerlang. Penonton yang datang sukses “dihipnotis” dengan kepiawaian para murid dalam menampilkan pertunjukannya. Tak jarang terlihat beberapa diantaranya berdecak kagum. “Tidak setiap hari saya dapat menyaksikan pementasan perayaan yang menarik seperti ini. Saya sangat suka dengan koreografi, drama, serta busana yang kontras dengan alur ceritanya,” aku Vincentius Jose, seorang murid yang datang menyaksikan sampai kelar. Berbeda dengan yang lain, Bobby Darwin, seorang siswa XI IPA 2, dengan jujur mengakui meski sempat keluar masuk saat pertunjukkan, tapi dirinya memberikan apresiasi tinggi dan rasa salut kepada para pemain yang sudah berusaha tampil maksimal. “Wah... asyik banget kok mereka. Selain bisa berkolaborasi apik, melalui pentas drama kolosal para siswa dapat merasakan pembelajaran di luar kelas. Di mall yang keren lagi. Tari-tarian dan nyanyian musikal yang dibawakan juga menjadi perpaduan yang etnik dank has,” terangnya bangga.

Di balik suksesnya acara pasti terdapat berbagai kendala yang mungkin belum dapat teratasi saat acara sudah berlangsung. Ya, pujian yang dituai penonton memang seakan tak ada habisnya, namun tetap saja, manusia tetaplah manusia. Tidak semuanya dapat selalu berjalan mulus. Seperti Joe XI IPA 1 yang mengamati bahwa acaranya sempat tidak on time sehingga gelarannya pun berakhir menjadi sedikit molor. Sementara, Juan Christian XII IPS yang merasa ending-nya kurang klimaks, “Menurut saya jalan ceritanya drakol sudah bagus, tapi begitu sampai ending kok kurang klimaks ya saya melihatnya. Lalu, adegan tarian yang ditampilkan terlalu banyak sehingga tokoh utama dari drakol ini terkesan “tenggelam”. Namun secara keseluruhan sudah oke punya sih. Salut!” jelasnya.

Di Balik Layar
Keberhasilan acara yang ditampilkan, tentunya tidak terlepas dari para crew yang bekerja di belakangnya. Kerja keras dan waktu yang banyak dikorbankan merupakan bentuk perjuangan tak kenal lelah. Entah sudah berapa butiran peluh keringat, suara yang serak, letih dan lelah “membanjiri” wajah-wajah panitia-panitia drakol. Tak jarang juga terlihat beberapa pemain drakol rela untuk pulang larut malam selama 3 bulan. Tentunya, hal ini juga tidak terlepas dari dukungan bapak/ibu guru panitia yang turut membimbing serta mendukung penyelenggaraan kegiatan ini. salah satunya, Ibu Elliza Widiastuti, selaku Waka Humas Sanmar. “Sebenarnya inilah ajang sesungguhnya bagi siswa untuk menjadi lebih berani tampil beda serta menunjukkan kemampuannya dalam berbagai latihan yang diikutinya masing-masing. Inilah ajang untuk menunjukan bakat, minat, dan potensi diri. Untuk ini, saya harus benar-benar memastikan bahwa semuanya berjalan dengan lancar. Baik dalam segi properti maupun persiapan siswa itu sendiri,” ungkap Ibu asli Yogya ini.

Drama kolosal 95 tahun Santa Maria ini juga turut didukung oleh tayangan multimedia dan tata cahaya yang sangat meriah. Juan Christian, siswa XII IPS 4, telah mengupayakan secara maksimal layar LED yang berukuran 3 x 12 meter dan 21 tata cahaya yang semakin menghidupkan suasana. Setiap adegan dalam drakol yang telah didukung lighting yang memadai ini menjadi semakin hidup dan membentuk satu kesatuan sinergi yang indah. Dengan bimbingan Bapak Kusdinarto dan tim-tim lainnya, para crew backstage berjalan dengan penuh semangat. Kerikil-kerikil yang menghambat jalannya acara tidak dijadikan sebagai kendala, melainkan sebagai batu loncatan untuk mendorongnya terus maju dan berkarya memberikan yang terbaik. Terbukti, hasil kerja keras crew backstage yang harus tetap tinggal di gedung SSCC sampai pukul 04.00 Wib menjelang hari-H pementasan menuai hasil yang membanggakan. “Jika ada masalah, jangan melihat masalahnya, tetapi kita harus selesaikan masalahnya dengan cara apapun yang dapat dilakukan,” kiatnya.

Tak hanya panitia dan crew saja yang dibekali persiapan matang, anggota-anggota PMR (Palang Merah Remaja) yang merupakan siswa-siswi SMA Santa Maria Surabaya juga telah diberi persiapan yang matang juga. Mereka bertugas jaga di area gedung SSCC dan harus sigap apabila ada penonton dan pengunjung yang tiba-tiba sakit dan perlu langsung ditangani. Dilengkapi dengan peralatan PMR seperti tandu dan obat-obatan untuk pertolongan pertama, anggota PMR Sanmar ini siap menjalankan tugas mulianya. “Di tengah-tengah acara ada yang tiba-tiba asmanya kambuh. Untung kami langsung sigap memberi pertolongan pertama,” terang Joice Sandra XI IPA 3 yang saat itu bertugas hingga kelarnya acara.

Ups, jangan khawatir apabila merasa haus dan lapar selama menyaksikan pertunjukan yang berlangsung sekitar 4 jam ini! Aneka stand makanan dan minuman juga telah tersedia di area luar gedung SSCC untuk melepaskan rasa dahaga maupun sekadar ingin mencicipi jajanan dan makanan ringan. Tentunya, harganya juga pas di kantong pelajar karena sebagian besar yang menonton acara ini adalah para pelajar Santa Maria. “Aku beli beberapa minuman aja, sih, harganya juga relatif murah. Takutnya kalau beli makan jadi gak fokus nontonnya, malah makan terus, hehehe,” ujar Michelle XI IPS yang datang menonton dari awal. Berbeda dengan Joe dari XI IPA I yang mengaku cukup menikmati makanan yang dijual di area gedung SSCC. “Kayak ada yang kurang kalau nonton tanpa melengkapi dengan camilan. Jadi, aku beli beberapa camilan ringan selagi menonton dramanya. Acaranya bagus, makanannya juga enak-enak. Top deh!” serunya.

Last but not least, para pemeran utama dalam drama kolosal juga dilanda kesibukan selama berbulan-bulan, lho! Dalam kurun waktu 2 bulan itu, para tokoh utama dalam drama kolosal ini, akhirnya dapat menampilkan pertunjukan yang luar biasa. Bak profesional saja, performa dan acting mereka sudah tidak diragukan lagi. Salah satu pemain dalam drama kolosal, Grace Subiantoro dari XI IPA 4 membagikan pengalamannya. Melalui “keisengannya” untuk mengikuti audisi drama kolosal, ternyata menjadikan dirinya terpilih sebagai tokoh utama. Tentu saja hal ini membuatnya senang. Meski pada awalnya sedikit khawatir karena ia merasa tidak pernah ada pengalaman terlibat dalam pementasan drama sebelumnya. Melalui kebersamaan yang tercipta diantara para pemeran, Grace mengaku menjadi percaya diri saat tampil. Segala canda tawa yang terjadi saat latihan drama membuat Grace merasa bahwa ia tidak hanya menjadi tokoh dalam sebuah drama, tapi telah tercipta ikatan persaudaraan yang kuat diantara mereka. “Jujur sih, aku gak merasakan deg-degan sama sekali saat akan tampil. Mereka semua membuatku, jadi percaya diri dan luwes banget. Duh, jadi rindu saat-saat drama kolosal, deh,” kenangnya.

Tidak hanya Grace, Valeri Adelia XI IPA 3 yang juga menjadi salah satu tokoh utama juga merasakan kehangatan mengalir antarpemeran. Saat-saat latihan adalah saat yang terseru baginya. Tak jarang, tawa terbahak-bahak keluar saat mendengar celotehan lucu. “Iya, kita memang sudah kompak sekali. Soalnya pemeran drama kolosal sendiri juga asalnya dari SMP Sanmar. Jadi, kita juga sudah saling mengenal satu sama lain,” akunya. Tak hanya acting, cewek yang bersuara emas ini juga turut menyumbangkan beberapa lagu bersama beberapa anggota lain, bahkan juga sambil menari. Harus bernyanyi, menari dan ber-acting sekaligus tak membuatnya terlalu kewalahan, hanya saja ini pengalaman pertamanya dalam pertunjukan menari, jadi cewek yang akrab disapa Dea ini harus totalitas ketika berlatih menari. Tentu saja, ada saja kendala yang dirasakan para pemeran ini saat mempersiapkan drakol. Mulai dari kendala saat sinkronisasi antar pemain dengan dubbing suara, sampai ketika menjelang hari-H script dramanya diubah-ubah karena penyeimbangan antara esensi drama dan pesan-pesan moral SERVIAM dirasa belum pas. Untungnya, berkat kekompakan antar pemeran drama, semua itu bisa diatasi dengan mudah. “Ini terjadi karena kebersamaan serta proses yang tidak mudah dan penuh perjuangan. Yang penting kompak saja dan dibawa senang,” tutup Wicaksana Isa XII Bahasa yang juga merupakan salah satu tokoh utama drama kolosal.

Usaha keras dan disertai doa yang tekun tak akan mengingkari hasil. Itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan segala proses dan perjuangan dibalik suksesnya acara besar Drama Kolosal 95 tahun Santa Maria berkarya di Surabaya ini. Segudang harapan dan doa yang tulus dari seluruh panitia dan pemain yang terlibat dalam Drakol membuahkan keberhasilan dan kesuksesan. Euforianya tersebut masih sangat terasa di hati sampai kini. Ya, sebuah kebersamaan yang berlangsung selama berbulan-bulan yang akan membuat siapa saja menjadi kangen dan kangen. Meski kangen itu berat…tapi biarlah rasa kangen itu akan kami kenang selamanya. Drakol-ku aku kan kembali …. (Natasha dan tim Fokus 49)

Komentar :

Maaf belum ada komentar

Input Comment :

Nama
Email
Komentar Maks: 500 karakter
Very Happy Smile Sad Surprised Shocked Confused Cool Laughing Mad Razz
Embarassed Crying Evil or Very Mad Twisted Evil Rolling Eyes Wink Exclamation Question Idea Hammer
 

« Dec 2020 »
M S S R K J S
29 30 1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9